Rabu, 31 Juli 2013


  saya masih belum tahu, orang kaya itu pohon uangnya ditanam di mana. Kok, kayaknya hidup mereka itu begitu mudah, sementara saya 'bokek' terus tiada habisnya.
Bertahun-tahun yang saya tahu tentang kesuksesan adalah bekerja keras, rajin, jangan membolos, harus punya tujuan (set your goal), punya motivasi tinggi, jangan menyerah, coba semua cara, yang penting kita terus ikhtiar, jangan lupa menabung demi masa depan, sebagaimana yang diajarkan oleh conventional wisdom zaman kita ini.
Yang saya bingungkan, setelah semua ikhtiar saya lakukan, kok hasilnya begitu-begitu saja, ya.
Ikhtiarnya itu harus yang bagaimana gitu? "There must be something missing here", pikir saya.
Tapi alih-alih mencari apa yang kira-kira hilang atau terlewatkan itu, sebagaimana banyak manusia lainnya, saya juga dijejali oleh petuah, bahwa hasil dari usaha kita itu terserah Tuhan. Yang penting kamu usaha dan berdoa, mau dikabulkan atau tidak, itu terserah DIA.
Dan ini memang betul.
Cuma yang saya heran, kenapa semua usaha saya lebih banyak tidak berhasilnya. Jadi lebih mirip aim, hit and...miss... terus-menerus.
Lingkaran setan: coba inilakukan dengan segenap kemampuan, lalu...gagal....
Sering saya bertanya pada diri sendiri, apa saya sebagai manusia begitu buruknya, sehingga Tuhan 'lupa' kepada saya.
Di bagian keistimewaan sistem sukses  Anda sudah membaca tentang bagaimana desperate-nya saya dalam usaha saya meningkatkan kemakmuran hidup saya. Semua sudah pernah saya coba. Tanpa hasil yang bertahan lama.
Bertahun-tahun hidup saya sekeluarga jatuh bangun, dengan masalah dan kesulitan tiada henti. Sebagai seorang perantau di belantara ibu kota yang menjadi guru bergaji tidak seberapa sementara pasangan hidupnya adalah korban PHK, membesarkan satu dua anak saja sudah cukup susah, apalagi bila kita ingin melakukannya dengan penuh martabat dan dengan segala kelayakan sebagaimana layaknya manusia.
Bertahun-tahun kami jadi "kontraktor", istilahnya, alias tinggal di rumah kontrakan sempit, berkamar satu, itupun tanpa dinding penyekat. Kalau hujan bocor dan air selokan depan rumah meluap, maka air kotor pun membanjir masuk. Lingkungan kami kumuh dan berdesakan dengan tetangga. Listrik dipakai bersama-sama, jadi sering sekali 'njepret' alias turun sekringnya karena gak kuat.
Setiap kali ada anak tetangga sakit, salah satu anak saya pasti ada yang tertular, yang lalu menularkannya ke anak saya yang lain. Ramai-ramai sakit semua deh satu rumah. Akibatnya, uang tabungan tidak pernah ada. Setiap terkumpul sedikit, selalu ada kondisi darurat yang terjadi yang membuat semuanya habis tandas lagi.
Saya masih ingat betapa "malunya" saya ketika para murid saya memberi "kejutan" (alias tanpa pemberitahuan lebih dahulu) dengan mengunjungi saya sehabis melahirkan di rumah petak tersebut. Rumah yang sempit, dengan korden bekas sprei dan tanpa meja kursi.
Sungguh saya merasa sangat tidak layak untuk menjamu tamu di situ. Saya juga hanya punya 2 buah gelas yang biasa kami pakai berdua saja. Nah dengan tamu siswa satu kelas, bagaimana kami bisa menjamu mereka?
Dan saya guru mereka. Sungguh tidak nyaman dilihat siswa dalam kondisi seperti itu. Jangan salah, saya bukan malu akan kemiskinan saya, meski saya harus akui saya memang miskin.
Saya hanya tidak ingin dilihat murid-murid saya dengan tatapan iba, saya juga ingin punya sedikit 'wibawa' di depan mereka. Apakah itu berlebihan?
Ya, saya yakin semua orang menginginkan seperti yang saya inginkan pada waktu itu. Bukan harta benda melimpah berlebihan. Bukan.
Tapi hidup yang layak, bermartabat dan penuh pertolongan Tuhan pada saat diperlukan. Adalah suatu bonus tambahan bila kemudian kita bisa juga benar-benar kaya secara materi. Tapi paling tidak, hidup layak dan bermartabat harusnya bisa dinikmati semua orang.
Jangan sampai ada yang berpikir Tuhan menyayangi satu jenis manusia saja dengan memberi mereka kemudahan hidup, tapi lupa pada sebagian lainnya.
Sebagai penghiburan diri, akhirnya saya dulu sering memilih untuk berpikir bahwa mungkin kemiskinan saya ini memang sudah takdir, karena toh saya sudah berusaha untuk mengubahnya tetapi tidak bisa juga.
Betapa salah pemikiran saya ini, saya baru tahu bertahun-tahun kemudian.
Ya pembaca yang budiman, kemiskinan bukan takdir. Saya akan jelaskan lebih lanjut tentang ini di sini. Silahkan membacanya bila Anda tertarik mengetahui bantahan saya terhadap pandangan yang sangat lazim dipercaya orang ini.
Sementara itu saya akan lanjutkan cerita dengan akhir perjalanan dan pencarian saya akan kunci sukses sejati.
Perjalanan berliku hidup saya tersebut memang akhirnya menemukan jalan lurusnya setelah saya menemukan rahasia sukses terbesar yang bisa membalik kondisi miskin menjadi kaya dalam waktu sekejap. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar